Terima kasih telah singgah di blog sederhana ini...
Aku adalah penumpang perahu yang tak lebih sekedar dipinjamkan.
Tak tau
batasnya samudera.
Di atas dan di bawahku adalah rahasia ketinggian dan
kedalaman.
Ditemani buku tua yang menceritakan sebuah pulau impian. Orang-orang
menyebutnya paradise, aden, surga, jannah, dan sebagainya.
Kadang aku berpikir kenapa perahuku begitu
kecilnya, dilain waktu aku pun berbaik sangka, mungkin ini disengajanya, agar
aku mampu menari diatas gelombang, atau meliuk-liuk diantara gugusan batu karang.
Ya, aku tau ini pun bagian dari sebuah rahasia
diantara begitu banyak rahasia yang dikehendakinya.
Memikirkan kerahasiaan ini membuatku memutuskan
untuk menyimak saja apa yang terjadi dalam mengarungi lautan ini.
Terang gelap,
tenang berombak, angin, badai, suara dan segala yang bisa kutangkap oleh rasa.
Dari semua yang terjadi kini kutuliskan dengan bahasa pemahamanku sendiri...

Bahwa semuanya
datang silih berganti.
Adalah sebuah kebodohan ketika mengeluh ketika badai datang, sebab badai benar adanya, seperti benar adanya terang akan datang, karena menggerutu tak akan merubah apa-apa. Maka akan jauh lebih baik jika aku berlaku tenang, memohon kekuatan darinya agar aku bisa tenang tersenyum tertawa bahkan berjingkrak "yihaaa!...yihaaa!..." menunggangi gelombang.
Adalah sebuah kebodohan ketika mengeluh ketika badai datang, sebab badai benar adanya, seperti benar adanya terang akan datang, karena menggerutu tak akan merubah apa-apa. Maka akan jauh lebih baik jika aku berlaku tenang, memohon kekuatan darinya agar aku bisa tenang tersenyum tertawa bahkan berjingkrak "yihaaa!...yihaaa!..." menunggangi gelombang.
Adalah
sebuah kesombongan bersorak bahagia ketika laut tenang, burung-burung
beterbangan, sebab bisa saja ini sekejap saja lalu berganti dengan gelap dan
badai yang mengerikan.
Adalah sebuah kedunguan meminum arak kepongahan.
Adalah
sebuah kepongahan mentertawakan mereka yang megap-megap hampir tenggelam akibat
badai semalam, sebab bisa saja aku lah yang berada disana, jika bukan karena
kasih sayangnya.
Ya, semua yang terjadi adalah keniscayaan, sebagai bagian kehendaknya.
Maka kuputuskan untuk tidak mendengki pada mereka yang berdiri diatas bahtera
yang lebih besar.
Maka kuputuskan untuk mengadukan semua yang
kualami, memohon diberikan kekuatan, rasa tenang, selama mengarungi lautan ini,
diberikan petunjuk agar tak tersesat.
Hingga aku bisa bahagia di lautan dan
sampai ke impian.
Dan kuterjemahkan segalanya dalam sebuah bisikan:
Rabbana
Atina Fiddunya Hasanah, Wa fil akhirati Hasanah, Waqina Azabannar....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar