Selasa, 23 Februari 2016

Raja Rusa Lima Warna: cerita renungan motivasi Master Cheng Yen




terima kasih telah singgah di blog sederhana ini...

Hari demi hari terus berlalu. setiap orang dan setiap masalah yang kita temui setiap hati dan hari kita, segala hal baik dan buruk terus membelenggu kita tanpa henti.
Jika kita memandang setiap orang dan segala hal yang kita temui dari sisi negatifnya maka air yang sangat jernih pun akan menjadi kotor dan keruh.


RAJA RUSA LIMA WARNA


raja rusa lima warna,cerita inspirasi,motivasi,renungan


Di sebuah hutan ada sekelompok rusa yang dipimpin oleh seekor rusa yang tubuhnya memiliki lima warna yang begitu cemerlang. Bentuk tanduknya sangat indah dan anggun.


Suatu hari kaisar mengajak  para menterinya berburu di hutan itu, panah-panah yang berhamburan dari busur mereka membuat para rusa berlari ketakutan. Usai berburu rombongan kaisar pun pergi, meninggalkan ibu-ibu rusa yang mencari anak-anaknya, demikian pula anak-anak rusa bingung mencari ibunya yang tercerai karena lari ketakutan. Banyak juga rusa yang jatuh ke dasar lembah dan mati berlumuran darah.

Melihat kondisi itu raja rusa merasa begitu sedih dan bersalah, ia pun memutuskan untuk pergi ke istana di ibukota untuk mengajukan permohonan kepada kaisar soal nasip rusa-rusa yang dipimpinnya.

Di hadapan kaisar, raja rusa bersujud sambil menangis lalu berkata, “kami sangat berterima kasih karena bisa menumpang hidup di tanah yang mulia. Kami tahu bahwa dapur istana harus membuat berbagai makanan yang lezat. Jika yang mulia bisa menentukan berapa rusa yang diperlukan setiap hari kami bersedia mengantarnya sendiri ke istana.”

Mendengar permohonan ini sang kaisar menjawab, “mungkin dapur istana hanya membutuhkan seekor rusa setiap harinya.”

Raja rusa merasa sedikit tenang mendengar jawaban kaisar, ia pun kembali ke hutan. Mengetahui rajanya sudah kembali, kawanan rusa segera berkumpul. Raja rusa berkata kepada mereka, “di dunia ini tak ada kehidupan yang tak berakhir. Agar kaum rusa bisa hidup dengan tenang dan terus berkembang biak, lebih baik kita mengorbankan diri. Dengan demikian setidaknya kehidupan kaum rusa bisa lebih tenang.”
Sejak saat itu kelompok rusa itu secara bergiliran mengorbankan diri. Bagi rusa yang tiba gilirannya, ia akan menghadap raja rusa untuk berpamitan. Raja rusa akan berkata, “hari ini kamu akan mengorbankan nyawamu. Hadapilah dengan hati tenang dan damai. Jangan ada rasa marah dan dendam terhadap kaisar.”

Suatu hari seekor ibu rusa yang tengah hamil tua datang bersujud dan memohon pada raja rusa, “bolehkan aku pergi setelah anakku lahir?”.
Mendengar permohonan itu  raja rusa bertanya kepada rusa lain yang mempunyai giliran hari berikutnya, “bersediakah kamu pergi satu hari lebih awal.?”. namun rusa itu segera menjawab, “aku tidak ingin mati lebih awal satu hari!.”
Mendengar jawaban rusa lain, raja rusa akhirnya memutuskan untuk datang ke istana kaisar dan langsung berjalan masuk ke dapur istana.

Melihat kejadian itu, juru masak istana merasa heran, “mengapa hari ini raja rusa yang datang mengorbankan diri sendiri?”. Ia pun melapor kepada kaisar.
Mendengar laporan juru masak, kaisar memanggil raja rusa dan bertanya, “mengapa begitu cepat giliranmu?, apakah rakyatmu sudah habis?”.

Raja rusa menjawab, “tidak”. Ia pun menceritakan permohonan rusa betina dan rusa lain yang memohon hidup sehari lagi. Karena itu, hari ini, raja rusa mengorbankan nyawanya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dapur istana.

Mendengar penuturan itu, kaisar merasa sangat bersalah. Ternyata meski terlahir sebagai rusa, tetapi raja rusa memiliki kebajikan layaknya manusia.
“aku adalah seorang manusia, tetapi aku lebih rendah dibandingkan seekor rusa.”
Sang kaisar akhirnya bertobat dan membuat pengumuman, “mulai saat ini semua rakyat dilarang berburu di hutan!”.


=================
hendaknya kita menganggap segala sesuatu yang kita temui setiap hari sebagai bahan pelajaran agar bisa memiliki kondisi batin yang jernih untuk bisa membedakan yang benar dan yang salah, serta menumbuhkan kasih sayang, suka cita, dan mencapai keseimbangan batin.


*) sumber: majalah Tsu Chi vol.15 2015



Tidak ada komentar: